Sabar Untuk Diam

Oleh: Ustd. Mukhlisin

Bisyr bin al-Harits al-Hafi mengatakan:

اَلصَّبْرُ هُوَ الصُّمْتُ أَوْ الصُّمْتُ هُوَ الصَّبْرُ وَلَا يَكُوْنُ الْمُتَكَلِّمُ أَرْوَعَ مِنَ الصَّامِتِ إِلَّا  رَجُلاً عَالِماً يَتَكَلَّمُ فِيْ مَوَاضِعِهِ وَيَسْكُتُ فِيْ مَوَاضِعِهِ

"Diam itu memerlukan kesabaran. Orang yang berbicara tidak lebih baik dibandingkan orang yang diam kecuali jika orang yang berbicara tersebut adalah orang yang berilmu atau kapabel dalam objek yang dia bicarakan dan dia berkomentar atau diam pada kondisi yang tepat."

Syahwat manusia untuk berbicara dan berkomentar itu luar biasa hebatnya, untuk mengendalikannya perlu perjuangan besar. Tanpa modal sabar yang banyak, seorang akan sulit untuk bisa mengendalikan syahwat berbicara. Sedangkan orang yang berkomentar  belum tentu lebih baik dibandingkan orang yang diam.

Ada dua syarat agar orang yang berbicara lebih baik dibandingkan orang yang diam:

Berilmu dalam bidang yang hendak dikomentari. Orang yang punya kecemburuan terhadap agama sehingga semangat berbicara, berkomentar, buat status, bikin meme, nulis bantahan dan lain-lain namun miskin ilmu itu lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki keadaan.

Bicara pada kondisi yang tepat. Berilmu saja belum cukup untuk mewujudkan perkataan yang bermanfaat. Ilmu harus diiringi dengan hikmah, tahu kapan sebaiknya berbicara dan kapan sebaiknya diam. Oleh karena itu hal yang semestinya hanya disampaikan di forum tertutup tidak dibicarakan di forum terbuka oleh seorang yang memiliki hikmah dalam berbicara. Tidak ada hikmah atau bijaksana tanpa ilmu namun berilmu itu belum tentu otomatis bisa bersikap hikmah atau bijak.

Semoga Allah berikan kepada kita semua anugrah berupa hikmah dalam bersikap dan berbicara, aamiin.

    www.kebonjambu.org

    Telepon     : 0231 342259

    Instagram : @pondokkebonjambu

    Facebook  : @kebonjambu

    Twitter     : @kebon_jambu

    E-Mail      : kebonjambu34@gmail.com