Blog

SHALAT BERHADIAH

Oleh: Iqbal Syarifuddin Muhammad

Seruan lewat speaker kantor pusat itu mampu membuat para santri Pondok As-Sholihin terlonjak sumringah, saking senangnya.

“Kepada seluruh santri pondok As-Sholihin yang menganggur dan tidak ada kegiatan, dipersilahkan menaiki mobil sekarang juga. Untuk melaksanakan takziyah.”

Para santri yang mendengar pengumuman itu langsung terkesiap. Lantas cukup tiga detik saja santri-santri bersarung itu menyerbu sebuah mobil truk di sisi lapangan pondok. Terlihat amat geli, sebab mereka pada berlarian, ada yang sambil membenarkan letak sarung atau peci, terseok-seok karena sendalnya susah dipakai, meringis kepanasan karena telapak kaki mereka tanpa alas menapaki aspal dan tanah panas di siang hari, ada juga yang sampai terjatuh. Teriakan mereka sendiri mungkin terdengar lucu.

“Serbuuuuu ….”

“Oy, solat berhadiah, uy. Solat berhadiah ….”

“Yuk yang lagi nggak ada duit. Ikut solat berhadiah, haha. Angkuuut …”

Seorang pengurus yang berdiri di samping truk tampak kebingungan, karena jumlah santri yang mau ikut takziyah membludak. Dan kebanyakan dari mereka pada kecil-kecil. Apa mau dikata, pengurus itu langsung bertindak. Speaker kembali berdengung.

“Mohon maaf, selain santri tingkat empat dan lima tidak diperkenankan untuk mengikuti takziyah.” Sampai beberapa kali dengan suara menghentak, “turun! Turuuun!”

Sejurus koor ‘Huuuuuuuuu …’ membahana seantero pondok. Maka di sana terciptalah raut wajah-wajah penuh kecewa, desisan sinis serta umpatan kesal tak berfaedah, namun masih dianggap wajar.

Ya, bersumber dari mereka para santri yang sebagian besar bertubuh kecil-kecil itu. Lantas disambut dengan ledekan para santri bercap santri lawas. Yang kini mulai menyerbu sambil mengusir, seolah-seolah mereka ialah komplotan si jago-jago yang harus dinomorsatukan.

Tak berapa lama mobil truk itu melaju meninggalkan lapangan pondok dengan seruan riuh tak ada habisnya. Sebuah moment menyenangkan memang, dalam menyantap segarnya dunia luar.

Lamat-lamat seorang bocah bertubuh kecil, tinggi semampai, mendadak muncul tiba-tiba dari pojokan depan truk. Ia nyengir kuda, seperti tak punya dosa. Menatap beberapa santri lawas di dekatnya, yang barang tentu terkejut bukan main.

“Mahbuuuuuuub?” seru kelima santri yang sedari tadi merasa tak nyaman berdiri. Mereka tak habis pikir, bisa-bisanya santri ingusan ini tertinggal di truk. Padahal aksi pengusiran sudah dilaksanakan secara sempurna.

Si empunya itu lagi-lagi nyengir kuda, memperlihatkan deretan gigi kuning menjijikkannya. “Hehehe ….”

“Kok sampean bisa ada di sini, sih?” tanya Nawaf, santri bersorban hijau.

Jiddan geleng-geleng kepala. “Iya, ih. Mana gah mudun-mudun! (kesanalah! Turun-turun!),” usirnya seraya menarik kerah kemeja santri itu.

Sontak Mahbub gelagapan, sambil merengek seperti mau menangis, “Eh, eh. Selow, Kang. Selow laaah ….”

“Aku kan tertinggal, Kang,” lanjut Mahbuh berekspresi cemberut.

Satu telunjuk mengarah tepat di depan hidung pesek Mahbub. Daffa menuduh, “Kamu ikut takziyah cuma mau nyari duit, ya? Hayo!”

“Hus! Sembarangan, ih, Kang Daffa mah. Nggak lah,” elak Mahbub tak terima. Ia berusaha mengalihkan wajahnya ke arah lain, kalau-kalau ekspresi wajah aslinya ketahuan. Ya, sebetulnya ada benarnya juga sih atas tuduhan Daffa. Tapi ia pura-pura mengelak. Eh, nggak-nggak, aku nggak punya niatan begitu, gumam hatinya berbicara.

“Terus mau ngapain?”

“Ya, mau ikut solat jenazah lah. Bukankah Almaghfurlah Akang juga dulu begitu, beliau sering takziyah terus ikut solat jenazah juga. Sehingga ketika beliau meninggal banyak sekali yang hadir, menyolati dan mendoakan. Aku ingin meneladani sikap baik beliau, Kang,” jawab Mahbub panjang kali lebar kali tinggi.

Mendengar penuturan sok ceramahnya itu, ia malah disambut ledekan lagi. “Nduuuhhhu … Sok banget kamu.”

“Ah, bisa bae ngelese sampean iki. (Ah, bisa aja ngelesnya kamu ini ih).”

“Iya, bilang aja mau cari amplop.”

“Huuuuuuhhhhh ….”

Beberapa pukulan ringan sebagai bahan candaan, Mahbub terima dengan suka rela.

Pluk … Pluk … Pluk …

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Jenazah seorang warga desa sudah siap disolatkan. Sebuah keranda mayat berdiri kokoh di tengah-tengah ruang tamu. Di sekelilingnya orang-orang berpakaian rapih tampak berdiri. Masih terdengar lirih suara-suara tangisan anggota keluarga, di beberapa bagian rumah cukup megah itu, yang katanya rumah pemilik sawah berhektar-hektar.

Rombongan santri pondok As-Solihin baru saja tiba, dipimpin oleh Ustad Hakim selaku ketua pondok. Mereka semua disambut baik oleh warga setempat, saling bersalaman dan menjamu ala kadarnya sebelum beberapa menit berikutnya mereka bersiap-siap untuk menyolatkan jenazah.

Solat jenazah dimulai. Dipimpin oleh Ustad Hakim dan dijamaahi oleh santri-santri berjumlah nyaris tiga puluh lima itu.

“Allahu Akbar …”

Tak perlu berlama-lama melaksanakan solat sunah muakad tersebut. Masih dalam posisi berdiri menghadap jenazah, mereka lanjutkan dengan tahlil.

Nah, disela-sela tahlil itulah ada moment yang ditunggu-tunggu bagi sebagian santri. Ya, bagi-bagi amplop. Mungkin bagi santri lawas hal semacam ini dianggap b aja. Tanpa dikasih pun no problem. Tapi tidak dengan santri-santri berotak geser. Mereka berpikir moment inilah yang paling dinanti.

Maka detik berikutnya sang tuan hajat berkeliling, satu-persatu dia taruh sebuah amplop di masing-masing saku atau telapak tangan para jama’ah, amat hati-hati sekali.

Mahbub sendiri yang berdiri di barisan paling belakang, mulai gusar. Berkali-kali ekor matanya melirik ke depan dan ke samping. Mencari sebuah sasaran utama, seiring hatinya berdebar tak keruan, kalau-kalau dirinya terlewatkan hanya karena tubuh kecilnya menyempil tak terlihat.

Detik yang ditunggu-tunggu Mahbub terjadi. Ia harus menahan napas sesak tatkala ekpektasinya salah besar. Ya, sang tuan hajat melewatinya, tanpa sadarkah dia?

Hati Mahbub menggerutu, “Duh! Kenapa aku kelewat sih? Apa kurang gede tubuhku sampai si bapak itu nggak ngelihat bahwa aku ada?”

Mahmud mencoba memberi kode dengan berdehem dan menjinjit. Tapi tetap saja si Bapak itu malah menjauh. Mahbub mendesah pasrah, “Hhhhh … Yaaahhhh … Aku nggak dapet, rugi ih,” gerutunya dalam hati.

Namun untungnya kesempatan masih berpihak kepada santri ingusan itu, sebab sesaat sebelum pulang sang tuan hajat bertanya siapa yang belum dapat amplop. Dan Mahbub langsung saja maju, “Saya, Pak. Belum.”

Si Bapak itu mendekat, sedikit merunduk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Mahbub. Ia tersenyum jahil. “Memangnya sampean sudah baligh?”

“Sudah, pak. Sering malah,” seloroh Mahbub keceplosan. Ia langsung menutup mulutnya dan disambut tawa renyah orang-orang di sekitarnya.

Sesampainya di pondok, para santri yang tadi mengikuti takziyah itu pada ngumpul di depan pendopo, sekadar berbincang-bincang karena seruan untuk segara solat asar belum terdengar menyeruak.

Ada dari mereka yang iseng-iseng membuka isi amplop.

“Hehe … Lumayan buat beli laukan,” celoteh santri berpeci agak miring seraya nyengir kuda.

“Kamu isinya berapa?”

“Sepuluh ribu.”

“Sama aku juga.”

“Hehe … rezeki anak soleh.”

Mahbub ikut duduk di antara beberapa teman seniornya. Ia mengeluarkan amplopnya dari saku Koko.

“Coba, Bub. Punya kamu dibuka, isinya berapa? Sama nggak?” Daffa penasaran sebab yang ia lihat amplop milik Mahbub tampak berbeda.

Tanpa buang-buang waktu santri bertubuh kecil itu membuka amplop di tangannya. Dan detik berikutnya semua melongo atas isi amplop tersebut. Apalagi Mahbub, ia benar-benar syok.

Ya, isinya kosong melompong.

“Ha? Kok nggak ada isinya, sih?”

Lantas gelak tawa pun bergemuruh. Mereka menertawakan kesialan Mahbub. Sebab hanya ia seorang yang mendapatkan amplop kosong.

“Haha … Kasihan!”

“Niat kamu takziyah salah kali, Bub. Cuma mau dapat amplop, ya?”

“Makanya lain kali niatkan sungguh-sungguh untuk takziyah. Soal amplop mah cuma bonus. Huuuuu ….”

“Iya, salah satu faedahnya kan mengingatkan kita akan takdir kematian. Kadang kita hanya selalu ingat dua takdir lainnya saja, rejeki dan jodoh. Tanpa tengok satu takdir penentu akhir hidup kita di akhirat nanti.”

Mereka malah berbicara soal kematian. Dan Mahbub hanya mampu tertegun, menyelami jiwa malangnya kini.

“Apa niatku kali ini salah?” gumam hati Mahmud sedih.

Sekonyong-konyong tiga orang temannya menyodorkan uang lima ribuan.

“Nih, buat kamu, Bub. Lain kali niatkan yang benar ketika takziyah. Jangan mengharapkan berbau duniawi, ya. Ada yang lebih penting dari itu. Yakni mengingatkan kita pada yang namanya kematian,” pesan Nawaf menepuk pundak Mahbub.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *