MENJADI KOPI DALAM KEHIDUPAN

sumber : https://pixabay.com/p-772630/?no_redirect

Oleh: Iqbal Syarifuddin Muhammad 

A

Aku baru paham sekarang, ternyata aku adalah wortel. Bukan sebuah sayuran bervitamin A atau pun sebuah makanan kesukaan kelinci. Melainkan sesosok yang mengaku-ngaku sebagai diriku sebenarnya, menyatu dalam jiwaku selama ini dan tanpa kusadari. Bingung, tentunya itulah kesimpulan pendek sesaat sebelum kutemukan titik terang usai sebuah pertemuan tak terduga dengannya di suatu senja, tepatnya di depan cermin.

            “Hei, kamu siapa?” tanyaku bingung bercampur kaget.

            “Aku wortel. Senang bertemu denganmu. Dan aku adalah kamu,” jawabnya tersenyum.

            “Maksudmu?”

            “Ya, kamu adalah aku yang sebenarnya,” ucapnya terakhir, lantas menghilang begitu saja, meninggalkan jejak-jejak pertanyaan yang satu-dua mulai mencuat di otak. Dia wortel? Aku adalah dia? Maksudnya?

            Ah, kepalaku berdenyut –pusing. Abaikan sajalah sesosok tak dikenal itu dan bergumul pertanyaan yang semakin menyesakki fikiran. Nanti akan kucoba cari tahu kunci titik terang maksudnya secara fleksibel, tanpa perlu berlarut-larut menguras otak. Walau aku yakin ia pasti akan menghantuiku di kemudian hari.

***

            Sosok itu hanya sekali mendatangiku, namun secara perlahan mampu merubah maindset serta sikapku 1800. Endingnya aku akan tenggelam dalam perenungan panjang. Hingga titik kecil cahaya muncul semakin membesar di antara kegelapan jagat. Ya, kini aku sadar, aku adalah wortel. Aku adalah dia dan dia memanglah aku.

            Ini terbukti usai berbagai cobaan atau aku sering menyebutnya kejutan memilukan, menghantam tameng keimananku yang semula tegak berdiri kokoh. Tepatnya ialah waktu itu aku amat yakin, optimis, tegar dan bersemangat sekali hendak merevolusi lembaran buku kehidupan gelapku, yakni dengan berani hendak masuk ke sebuah atmosfer agamis –pondok pesantren salaf. Di samping memang kedua orang tuaku nampak putus asa mengendalikan kenakalanku dan aku pun sudah amat bosan. Tak perlu bertanya bagaimana reaksi mereka menyambut keiginanku itu.

            Namun baru beberapa langkah tangga kupijak, menghalau duri-duri berserakan, aku sudah KO. Berbagai kejutan memilukan menghadang di awal-awal laksana jutaan anak panah menghujan di langit lepas. Aku menjadi down dan terpuruk, tak kuat meghadapinya walau sekejap. Entahlah kenapa, yang pasti keadaan seperti ini yang kualami. Jangankan tertatih mengadaptasi diri, bernafas pun terasa sesak. Hingga tiga hari selanjutnya dua kali aku kabur dari pondok bak seorang buronan penjara, kembali ke rumah. Sekali lagi tak perlu bertanya bagaimana reaksi kedua orang tuaku selanjutnya.

            Usai murkanya kedua sayap hidupku habis-habisan, di suatu senja sosok itu muncul di depan cermin, menyapa dalam gelap. Masih kuingat suara nyaringnya melengking gendang telinga, Aku wortel. Senang bertemu denganmu. Dan aku adalah kamu, kamu adalah aku yang sebenarnya.

***

            Masih tenggelam dalam kubangan kegamangan, ayah memaksaku untuk kembali ke pondok tanpa peduli anaknya berteriak kesakitan di tarikya menghadap Sang Kyai. Baru dihadapannyalah tanpa sadar aku tertunduk kaku seiring tangis ayah terasa memekik telinga dan menghantam diding hatiku.

            Hikmah dari kejadian saat itu berefek pada sikapku yang perlahan berubah, entah seperti apa sulit kugambarkan. Apalagi untaian nasehat bernada lembut dari sosok lelaki sepuh berambut kapas itu, mampu mengakar dalam otak serta menciptakan kedamaian jiwa.

            Satu tahun berikutnya ternyata kejutan memilukan kembali hadir tanpa di sangka, terasa lebih mencekam sesuai dengan situasi dan posisiku kini. Kucoba amalkan nasehat dari guru-guruku supaya tidak kembali terperosok kedalam jurang yang sama, meski harus bersusah payah menahan tangis dan berontak suara hati. Dan kali ini yang tak kumengerti ialah efeknya aku menjadi pendiam, tertutup dengan siapa saja yang ingin mencampuri urusan. Dingin dan tak bersahabat adalah dua kata yang mungkin mewakili keadaanku kini, seiring masih terasa jelas kejutan memilukan itu terus mengiringi kehidupku. Lantas tiba-tiba sosok lain muncul di hadapan, bukan sosok yang dulu.

            “Hai, senang bertemu denganmu,” sapanya tersenyum ramah.

            “Siapa kamu? Wortel?” tanyaku dingin.

            Dia menggeleng, “Bukan. Wortel sudah pergi. Kini aku yang hadir dalam jiwamu. Kenalkan aku adalah telur. Dan aku adalah kamu. Ingat! Kamu adalah aku,” tegasnya menatapku tajam.

            Aku murka, sesaat sebelum kepalan tanganku hendak melayang. Plass… sosoknya lenyap begitu saja. Aku menggeram, menahan nafas kesal. Telur? Aku adalah telur? Apa maksudnya lagi?

            Pertemuan tak bersahabat denganya ternyata bukan hanya menjadikan fikiranku di sesakki denyar-denyar kebingungan. Tetapi juga menciptakan emosi berlipat-lipat. Otakku terasa nyaris pecah, belum lagi berbagai masalah memilukan datang silih berganti tanpa peduli meminta waktu supaya berhenti walau sejenak. Aku menjadi sosok berbeda, semakin tertutup, dingin, tak mau diganggu siapa saja. Mungkin bisa jadi orang-orang menyangka bahwa aku stress atau lebih tepatya ialah gila.

***

            Tatkala jiwaku masih terhimpit dalam keterpurukan, lelaki sepuh berambut kapas itulah yang bersusah payah menarikku tertatih. Ya, saat hujan cobaan memilukan itu menyapa lepas tanpa celah untuk menegosiasi sang waktu. Pertemuan tanpa di sangka dengan sosok lain beberapa waktu lalu belum juga kutemukan titik terang kegelapannya. Sosok lain yang mengaku tertanam dalam jiwaku kini, telur sebut namanya.

            Ia menyerahkan secangkir kopi hitam dengan kepulan uap jelas bergumul di atasnya. Amat wangi merasuk menggetar bulu hidung. Selanjutnya ia hanya menatap lamat-lamat ke arahku, refleks aku menunduk.

            “Kamu harus menjadi ini. Kopi. Aroma khas dan wanginya mampu manciptakan ketenangan. Semakin panas airnya semakin wangi kopinya. Terlebih ketika kita menyesapnya lembut, mengalirkan segala keyamanan di jiwa. Dia yang awalnya hanya berupa serbuk tatkala bercampur dengan air panas, mampu merubah segala yang di bawanya. Kau harus pahami makna kopi dalam kehidupan,” ujarnya lembut penuh ketegasan. Aku mendongak, tak paham apa maksudnya.

            Tanpa perlu menunggu responku selanjutnya, beliau bangkit. Lantas mengajakku pergi, entah kemana. Yang pasti aku hanya manut di belakangnya dan hening menyelimuti kami berdua.

Pertama, kami mengahadap sebuah perkumpulan anak muda dan orang tua di sebuah pendopo. Sosok lelaki dewasa berpeci hitam nampak tengah bercakap, berbaur diantara mereka.

            “Dia adalah sosok yang mampu merasuki makna kopi dalam jiwanya. Jika kau perhatikan sikap dan gerak-geriknya, ia seperti tak memanggul berbagai masalah. Lihat sajalah! Merekapun tak menyadarinya. Tapi jika kau tahu dibalik semua itu, ia tengah dirundung duka. Seminggu yang lalu istri dan anaknya di kampung di jemput Allah. Di tambah lagi dengan usaha dagangnya, nyaris ambruk,” jelasnya memberi tahu. Aku hanya diam mendengarkan. Tapi sungguh, seperti ada desir di hati yang sulit kutafsirkan.

Kedua, ia menuntunku menghadap sebuah surau kecil. Di dalamnya ada sebuah pengajian anak-anak yang di pimpin oleh seorang lelaki seumuran ustadku di pondok. Lelaki itu nampak antusias mengajar ngaji.

            “Dia juga ialah mampu merasuki makna kopi dalam jiwanya. Berbagai permasalahan dan cobaan menghimpitnya di tengah kesibukan sebuah amanah dari pondok, memimpin masyarakat. Bisa kau bayangkan apa jadinya jika kau tiba-tiba di tugasi berbaur di kampung yang mayoritas awam. Belum lagi karakter setiap orang disana yang barang tentu bisa membuatmu tercengang. Apa yang akan kau lakukan? Tapi dia? Lihat saja!”

Terakhir, ia menghadapku pada sosok lelaki seumuranku yang terlihat khusuk membaca Al-Qur’an di sudut masjid. Sebentar, bukankah ia Fahri teman sebayaku di pondok?

            “Dia temanmu kan? Pasti kau tahu seperti apa sikap dan pribadinya selama ini. Seperti tak memiliki masalah, bahkan mampu mengusai diri dengan kesibukannya mengaji, musyawaroh dan aktivitas lainnya. Karena apa? karena ia berhasil menjadi sosok kopi sesungguhya. Sosok kopi dalam kehidupan. Meresapi makna kopi lebih dalam. Orang-orang tak mengetahui, juga kau sendiri bahwa ia sebenarnya dirundung duka, mengidap penyakit menyedihkan. Seminggu sekali ia harus izin keluar untuk cuci darah. Belum lagi dengan cobaan lain yang selalu akan datang meyapa tak terduga,” kali ini hatiku terasa membasah.

            Masih dalam keterpakuan, lelaki sepuh di depanku itu menatapku lagi dalam-dalam. Seolah hendak mencari sebuah mutiara berharga di balik kedua mataku. Secangkir kopi hitam ia serahkan ke atas telapak tanganku.

            “Sekali lagi, kau harus bisa menjadi ini. Kopi, seperti mereka. Merajut dan merasuki makna kopi dalam jiwamu. Hingga kau temuka sosok kopi sebenarya dalam kehidupan. Bukan lagi keterpurukan atau malah sikap tak bersahabat dengan lingkunganmu ketika berbagai cobaan menghadang menghiasi sepanjang rel kehidupanmu. Karena cobaan pasti akan selalu hadir berganti-ganti tanpa disangka. Maka menjadi sosok kopilah kunci menghadapinya. Kau akan menebar manfaat kepada siapa saja usai melewatinya. Semakin panas airnya semakin harum pula wangi kopi itu menggetar bulu hidung. Juga kau akan terasa mewangi, semakin nikmat menghalaunya. Bahkan mampu mengubah warna lingkunganmu sesuai yang kau bawa. Seperti itulah sosok kopi yang harus kau miliki,” jelas Kyaiku itu panjang lebar dengan nada amat lembut, mampu menancap kuat ke setiap inci memori otak.

            Aku menunduk dalam, seperti tersiram embun kesejukan dari langit. Kutatap secangir kopi hitam di genggaman tanganku. Sekarang aku paham, apa yang harus kulakukan. Menjadi kopi, merasuki jiwa degannya. Menjadi kopi sesungguhnya dalam kehidupan. Bukan mengkiblat pada kedua sosok itu, yang menyapaku tak terduga.

***

 

Iqbal Syarifuddin Muhammad ialah nama pena dari iqbal saripudin. 20 tahun yang lalu ia menyapa dunia dengan selamat. Kini masih nyantri di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Ciwaringin-Cirebon. Juga menjadi mahasiswa di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Selain hari-harinya di isi dengan tholabul ‘ilmi, ia pun masih suka mengeluarkan imajinasinya, lewat menulis cerpen-cerpen dan novel. Salah satu mimpi kecilnya ialah karyanya dapat terpajang di setiap rak toko buku, dan yang pasti dapat menebar hikmah-hikmah bermanfaat. Bisa di hubungi, FB: Iqbal Saripudin Muhammad, Wattpad: Iqbalsaripudin.

Cerpen_Kopi_Iqbal Saripudin_Menjadi Sosok Kopi Dalam Hidup

eventariapustaka@gmail.com

089630447983

 

    www.kebonjambu.org

    Telepon     : 0231 342259

    Instagram : Santrineakang

    Facebook  : Pondokkebonjambu